SUMENEP, pilarjatim.id – Program Makan Bergizi (MBG) yang dikelola oleh SPPG Yayasan Batu Berlian di Desa Paseraman, Kecamatan Arjasa, kembali menuai kecaman keras dari masyarakat. Pasalnya, kasus makanan berulat kembali terjadi untuk kedua kalinya. Setelah sebelumnya ditemukan di SDN Paseraman, kini kejadian serupa terulang di SMP Negeri 1 Arjasa.
Peristiwa terbaru ini terjadi pada Senin, 2 Januari 2026, ketika seorang siswi SMPN 1 Arjasa menemukan ulat pada potongan timun yang menjadi bagian dari menu MBG yang diterimanya. Lebih mengkhawatirkan, siswi tersebut sempat memakan sebagian makanan sebelum menyadari adanya ulat di dalamnya.
Akibat kejadian itu, siswi mengalami syok, lemas, tubuh dingin, dan nyaris pingsan. Pihak sekolah bersama keluarga akhirnya memulangkan siswi tersebut untuk pemulihan. Meski tidak sampai dirawat di fasilitas kesehatan, kejadian ini sudah cukup untuk memicu kepanikan dan ketakutan di kalangan siswa dan orang tua.
Yang paling mengkhawatirkan, ini bukan kejadian pertama. Dua kali dalam waktu berdekatan, dapur MBG yang sama menyajikan makanan yang tidak layak konsumsi. Fakta ini membuat publik mempertanyakan apakah dapur SPPG Batu Berlian masih layak mengelola makanan untuk ratusan anak sekolah.
“Kalau sekali bisa dibilang lalai. Tapi kalau sudah dua kali, ini indikasi kegagalan sistemik dalam pengelolaan dapur dan pengawasan keamanan pangan,” ujar salah satu wali murid dengan nada geram.
Temuan ulat pada sayuran segar menunjukkan buruknya standar higienitas, mulai dari pemilihan bahan baku, pencucian, penyimpanan, hingga penyajian. Timun adalah bahan pangan yang sangat sensitif terhadap kontaminasi dan seharusnya melewati proses pencucian dan pemeriksaan berlapis sebelum disajikan ke anak-anak.
Desakan kini menguat agar SPPG Batu Berlian diaudit secara menyeluruh, termasuk terhadap tim gizi dan manajemen dapur. Mereka tidak hanya bertanggung jawab pada nilai gizi, tetapi juga pada keselamatan dan kesehatan penerima manfaat.
Masyarakat meminta agar Dinas Kesehatan dan Badan Gizi Nasional tidak tinggal diam. Jika terbukti ada kelalaian berat, sanksi tegas hingga penghentian sementara operasional dapur dinilai perlu dilakukan.
Program MBG sejatinya hadir untuk mencerdaskan dan menyehatkan anak-anak, bukan malah mempertaruhkan kesehatan mereka dengan makanan yang tidak layak. Dua kali kejadian makanan berulat adalah tamparan keras bahwa pengawasan harus diperketat, atau nyawa dan kesehatan siswa yang akan menjadi taruhannya.














