Example floating
Example floating
PeristiwaBerita

Kangean Darurat Energi, Aktivis Dikecam: Muncul Saat ada Cuan, Hilang Saat Rakyat Butuh

1367
×

Kangean Darurat Energi, Aktivis Dikecam: Muncul Saat ada Cuan, Hilang Saat Rakyat Butuh

Sebarkan artikel ini

Sumenep, pilarjatim.id – Kepulauan Kangean, Kabupaten Sumenep, tengah menghadapi kondisi yang memprihatinkan. Krisis kebutuhan dasar kini terjadi secara nyata di tengah masyarakat. Kelangkaan BBM semakin mencekik, LPG sulit diperoleh, sementara pasokan listrik dari PLN kerap hidup-mati tanpa kepastian.

Situasi ini bukan lagi sekadar keluhan, melainkan telah memasuki fase darurat yang berdampak langsung terhadap aktivitas dan kehidupan sehari-hari warga.

Di tengah kondisi tersebut, sorotan publik tidak hanya tertuju pada pemerintah, tetapi juga kepada para pemuda, aktivis, dan tokoh masyarakat yang dinilai belum menunjukkan peran signifikan dalam merespons krisis ini.

Suriyadi, S.H., seorang praktisi hukum, secara terbuka menyampaikan kritik keras terhadap sikap sebagian aktivis dan tokoh kepulauan yang dianggap tidak konsisten dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat.

“Jangan jadi aktivis musiman! Jangan hanya bergerak ketika ada kepentingan tertentu,” tegasnya.

Ia menilai, sebelumnya sejumlah pihak terlihat vokal dalam menyuarakan isu-isu tertentu dengan mengatasnamakan kepentingan rakyat. Namun, ketika masyarakat benar-benar menghadapi tekanan akibat krisis energi, suara tersebut justru menghilang.

“Dulu bisa lantang mengaku membela rakyat. Sekarang saat rakyat kesulitan mendapatkan energi, ke mana semua? Jangan sampai muncul kesan hanya bergerak jika ada keuntungan,” ujarnya.

Menurut Suriyadi, kondisi yang dialami Kangean saat ini merupakan ujian nyata bagi siapa pun yang mengaku sebagai pejuang masyarakat. Ia menegaskan bahwa perjuangan tidak seharusnya hadir hanya pada momen tertentu, melainkan justru dibutuhkan saat masyarakat berada dalam kondisi paling sulit.

“Ini bukan soal agenda atau panggung, ini soal keberlangsungan hidup masyarakat. BBM mahal, LPG langka, listrik tidak stabil—tetapi yang mengaku pembela rakyat justru diam. Ini sangat disayangkan,” katanya.

Lebih lanjut, ia menilai sikap pasif tersebut sebagai bentuk kegagalan moral. Menurutnya, keberadaan aktivis dan tokoh masyarakat akan kehilangan makna jika tidak mampu bersuara dan bertindak dalam situasi krisis.

“Kalau hanya muncul saat ada kepentingan pribadi, itu bukan perjuangan—melainkan kepedulian yang dipertanyakan,” tambahnya.

Suriyadi pun mendesak seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemuda, aktivis, hingga tokoh agama, untuk segera mengambil peran aktif. Ia mendorong adanya gerakan nyata guna menekan pemerintah agar segera hadir memberikan solusi atas krisis yang terjadi.

“Masyarakat tidak membutuhkan pencitraan. Yang dibutuhkan adalah tindakan nyata. Diam berarti membiarkan penderitaan ini terus berlangsung,” tegasnya.

Kini, publik menanti langkah konkret dari para aktivis dan tokoh di Kepulauan Kangean. Apakah mereka akan bangkit dan menunjukkan keberpihakan kepada masyarakat, atau tetap memilih diam di tengah kondisi darurat ini.

Satu hal yang pasti—Kangean sedang tidak baik-baik saja, dan dalam situasi seperti ini, diam bukan lagi sikap, diam adalah bagian dari masalah.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan