MALANG,PilarJatim.id– Peristiwa meninggalnya seorang warga lanjut usia di Desa Poncokusumo, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Senin (1/6/2026), seharusnya tidak hanya dipandang sebagai sebuah kabar duka. Lebih dari itu, kejadian ini menjadi cermin yang memantulkan pertanyaan besar tentang seberapa kuat kepedulian sosial masyarakat terhadap warga yang sedang berjuang menghadapi sakit berkepanjangan dan keterbatasan hidup.
Peristiwa ini di Laporkan oleh Gatot Saekowarno Seorang Perangkat desa dengan nomor laporan LP/GANGGUAN/B/2026/SPKT/POLSEK PONCOKUSUMO/POLRES MALANG/POLDA JATIM Korban diketahui telah lama menderita penyakit yang tidak kunjung sembuh. Namun fakta tersebut justru menimbulkan pertanyaan yang layak menjadi bahan evaluasi bersama. Ketika seseorang bertahun-tahun bergulat dengan penyakit, apakah lingkungan sekitar benar-benar hadir memberikan dukungan? Ataukah penderitaan itu perlahan menjadi pemandangan yang dianggap biasa hingga akhirnya luput dari perhatian?
Petugas Polsek Poncokusumo bersama tenaga kesehatan dan pemerintah desa memang bergerak cepat setelah menerima laporan. Namun penanganan setelah peristiwa terjadi tidak boleh mengaburkan persoalan yang lebih mendasar, yakni bagaimana sistem kepedulian sosial berjalan sebelum tragedi itu terjadi.
- ” Gatot Menyebut Peristiwa ini menjadi pengingat kita semua agar mempunyai rasa kepekaan dan kewaspadaan yang tinggi pada Lingkungan, Ucapnya”
Di banyak daerah, warga lanjut usia yang hidup dengan penyakit kronis sering kali menghadapi beban berlapis. Mereka bukan hanya berjuang melawan rasa sakit, tetapi juga menghadapi kesepian, keterbatasan aktivitas, ketergantungan ekonomi, hingga minimnya ruang untuk menyampaikan keluh kesah. Sayangnya, persoalan-persoalan semacam ini kerap tidak terlihat karena tidak tercatat dalam laporan resmi ataupun statistik pemerintahan.
Peristiwa di Poncokusumo menjadi alarm bahwa pembangunan tidak cukup hanya diukur dari infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi. Kekuatan sebuah desa juga ditentukan oleh kemampuan masyarakatya. terutama mereka yang sedang berada dalam kondisi rentan.
Pertanyaan kritis yang perlu diajukan adalah apakah perangkat desa, tokoh masyarakat, lembaga sosial, hingga lingkungan RT dan RW telah memiliki mekanisme yang aktif untuk memantau kondisi warga lanjut usia dan warga sakit menahun? Ataukah perhatian baru muncul setelah sebuah peristiwa tragis terjadi?
Budaya gotong royong yang selama ini dibanggakan jangan sampai hanya menjadi slogan yang terdengar saat perayaan atau kegiatan seremonial. Nilai tersebut seharusnya hadir dalam bentuk nyata: kunjungan rutin kepada warga sakit, pendampingan sosial, perhatian terhadap kesehatan mental, serta komunikasi yang lebih intens dengan keluarga yang sedang menghadapi beban berat.
Duka yang terjadi di Poncokusumo tidak boleh berhenti sebagai berita satu hari. Tragedi ini semestinya menjadi bahan introspeksi bagi semua pihak bahwa masih ada warga yang mungkin sedang memikul penderitaan dalam diam tanpa mendapatkan perhatian yang memadai. Sebab dalam banyak kasus, seseorang yang sedang berjuang menghadapi penyakit atau tekanan hidup tidak selalu membutuhkan bantuan besar. Kadang yang paling dibutuhkan adalah kehadiran, kepedulian, dan keyakinan bahwa mereka tidak sedang menghadapi semuanya sendirian.
Jika tragedi ini tidak melahirkan evaluasi dan kepedulian yang lebih nyata, maka duka tersebut hanya akan menjadi angka dalam catatan peristiwa. Namun jika menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas sosial, setidaknya ada pelajaran berharga yang dapat diwariskan dari sebuah kehilangan yang menyayat hati.












