Sumenep, pilarjatim.id – DPC Koordinator Island Corruption Watch (ICW) Arjasa, Daeng Sultan, melontarkan pernyataan keras dan penuh tekanan terkait menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan oleh SPPG Yayasan Nurul Islam kepada siswa SDN Arjasa serta penerima manfaat lainnya. Menu tersebut dinilai tidak pantas, bahkan disebut menjijikkan dan jauh dari standar gizi yang seharusnya diterapkan untuk anak sekolah.
Dengan nada tegas, Daeng Sultan menyebut persoalan ini bukan kesalahan kecil yang bisa dianggap sepele. Ia menilai ada indikasi lemahnya pengawasan dan buruknya tata kelola dalam pelaksanaan program MBG di Arjasa.
“Kalau tidak bisa mengelola MBG dengan benar, lebih baik mundur. Jangan anak-anak dijadikan korban atas keserakahan dan ketamakan para pengelola,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan pendapatnya bahwa selama ini pelaksanaan MBG di Arjasa terkesan tidak pernah diawasi secara serius. Menurutnya, jika benar menu yang tidak layak bisa lolos dan sampai ke tangan siswa, maka patut dipertanyakan peran pengawas dan manajemen internal.
“Saya berpendapat MBG yang ada di Arjasa ini seperti tidak pernah diawasi. Kalau pengawasan berjalan, hal seperti ini tidak mungkin terjadi. Jangan sampai pengawas dan pengelola justru menjadi ‘tikus di dalamnya’ yang merusak program dari dalam,” ujarnya dengan nada menekan.
Daeng Sultan menegaskan bahwa program MBG menggunakan anggaran publik yang tidak sedikit setiap harinya. Karena itu, ia menuntut transparansi, akuntabilitas, dan evaluasi total terhadap pengelolaan SPPG Yayasan Nurul Islam.
“Ini soal masa depan generasi. Jangan main-main dengan gizi anak. Jangan berlindung di balik nama program sosial, tapi praktiknya jauh dari standar,” tambahnya.
ICW Arjasa mendesak pihak terkait untuk segera melakukan audit menyeluruh dan memberikan klarifikasi terbuka kepada masyarakat. Jika ditemukan adanya kelalaian atau penyimpangan, ia meminta agar ada tindakan tegas demi menjaga integritas program.
Pernyataan keras ini semakin memperkuat tekanan publik terhadap pengelolaan MBG di Arjasa. Masyarakat kini menunggu langkah nyata, bukan sekadar janji, agar program yang seharusnya menjadi solusi peningkatan gizi siswa benar-benar dijalankan dengan jujur, profesional, dan bertanggung jawab














