Example floating
Example floating
PemerintahanBerita

VIRAL! SPPG Berkah Nusantara Peduli Diduga Abaikan Gizi Anak—Menu Tak Layak, Aktivis: “Lebih Baik Tutup Saja!”

2271
×

VIRAL! SPPG Berkah Nusantara Peduli Diduga Abaikan Gizi Anak—Menu Tak Layak, Aktivis: “Lebih Baik Tutup Saja!”

Sebarkan artikel ini

Sumenep, pilarjatim.id – Program SPPG Berkah  Nusantara Peduli di Desa Laok Jang-Jang, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Sumenep, kembali menuai kecaman keras. Viral di media sosial, sajian makanan untuk anak-anak dinilai tidak layak, jauh dari standar, dan mencoreng tujuan program pemenuhan gizi.

Menu yang disajikan disebut tidak mencerminkan kualitas yang seharusnya, bahkan diduga tidak memenuhi standar Badan Gizi Nasional (BGN) serta angka kecukupan gizi (AKG). Kondisi ini langsung memicu kemarahan publik.

Yang paling disorot, kejadian ini bukan yang pertama. Dugaan kesalahan berulang membuat program ini dinilai dijalankan tanpa keseriusan.

DPC LSM Bidik, melalui Muhlis Fajar, melontarkan kritik keras tanpa kompromi. Ia menilai pengelola SPPG tersebut tidak layak menjalankan program yang menyangkut masa depan anak-anak.

“Ini bukan lagi kelalaian biasa. Ini sudah bentuk pengabaian terhadap gizi anak. Kalau tidak mampu jalankan sesuai standar, lebih baik tutup saja!” tegasnya.

Menurutnya, program yang dibiayai negara tidak boleh dijalankan secara asal-asalan. Setiap rupiah yang digelontorkan harus berbanding lurus dengan kualitas yang diterima masyarakat, khususnya anak-anak sebagai penerima manfaat.

“Ini uang negara, bukan untuk coba-coba. Kalau kualitasnya seperti ini, jelas merugikan negara dan membahayakan generasi ke depan,” ujarnya tajam.

Ia juga mendesak pihak terkait untuk tidak lagi bersikap lunak. Evaluasi total bahkan penghentian program dianggap sebagai langkah yang harus dipertimbangkan jika pelanggaran terus berulang.

“Jangan dibiarkan. Kalau terus seperti ini, sama saja membiarkan anak-anak jadi korban. Harus ada tindakan tegas!” tambahnya.

Kasus ini kembali membuka fakta pahit di lapangan: program yang seharusnya menjadi solusi justru berpotensi menjadi masalah baru akibat lemahnya pengawasan dan rendahnya tanggung jawab pelaksana.

Kini publik menunggu langkah nyata—apakah pihak berwenang akan bertindak tegas, atau kembali membiarkan persoalan ini berlalu tanpa penyelesaian?

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *