Sumenep, pilarjatim.id — Harga tabung gas LPG 3 kilogram di Desa Kramian, Kecamatan Kepulauan Masalembu, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, dilaporkan mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini membuat masyarakat, khususnya rumah tangga dan pelaku usaha kecil, mengeluhkan mahalnya harga gas bersubsidi yang seharusnya mudah dijangkau.
Sejumlah warga menyebutkan, harga LPG 3 kg kini jauh melampaui harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Lonjakan tersebut membuat beban ekonomi masyarakat semakin berat, terutama bagi keluarga berpenghasilan rendah.
Menanggapi situasi ini, Anggota DPRD Kabupaten Sumenep asal Kepulauan Masalembu, Ahmad Juhairi, angkat bicara. Ia menegaskan bahwa kenaikan harga tersebut sangat tidak wajar dan tidak bisa dibiarkan berlarut-larut.
“Yang pasti, kenaikan harga ini sangat tidak wajar dan memberatkan masyarakat, khususnya masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah,” tegas Ahmad Juhairi.
Menurutnya, salah satu penyebab utama mahalnya LPG bersubsidi adalah adanya dugaan oknum yang mempermainkan harga demi keuntungan pribadi. Selain itu, ia juga menyoroti lemahnya kontrol pemerintah dalam menjaga stabilitas harga di wilayah kepulauan.
“Ini bukan hanya soal distribusi, tapi juga soal pengawasan yang lemah. Kalau tidak ada pengawasan, pasti ada yang bermain,” ujarnya.
Sebagai wakil rakyat, Ahmad Juhairi
berkomitmen untuk segera mengambil langkah konkret. Ia mengaku akan berkoordinasi dengan OPD terkait, termasuk dinas perdagangan dan instansi pengawas, guna menelusuri penyebab kenaikan harga dan memastikan LPG 3 kg kembali dijual sesuai ketentuan.
“Kami akan memastikan harga kembali stabil dengan melakukan koordinasi dan pengawasan ketat, agar tidak ada lagi oknum yang bermain-main demi kepentingan pribadi,” pungkasnya.
Masyarakat Masalembu berharap pemerintah daerah segera turun tangan agar gas LPG 3 kg kembali terjangkau dan tepat sasaran, sesuai tujuan awal subsidi pemerintah.














