Example floating
Example floating
Uncategorized

Nasabah BMT UGT Nusantara di Desa Angkatan Kehilangan Rp30 Juta, Sistem Mobile Dipertanyakan

224
×

Nasabah BMT UGT Nusantara di Desa Angkatan Kehilangan Rp30 Juta, Sistem Mobile Dipertanyakan

Sebarkan artikel ini

Sumenep, pilarjatim.id — Skandal dugaan kebobolan sistem kembali mencoreng dunia keuangan mikro. Mahriya, nasabah BMT UGT Nusantara yang berkantor di Desa Angkatan, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Sumenep, mengaku uang tabungannya sebesar Rp30 juta raib secara misterius dalam hitungan hari. Ironisnya, alih-alih mendapatkan perlindungan, Mahriya justru disudutkan dan disalahkan oleh pihak BMT.

Mahriya menuturkan bahwa ia hanya menggunakan Mobile UGT untuk membeli pulsa dan token listrik. Untuk transfer dana pun, sistem BMT membatasi maksimal Rp500 ribu per transaksi dengan limit harian Rp2,5 juta. Namun fakta di buku rekening menunjukkan sesuatu yang jauh lebih mencurigakan: penarikan Rp2,5 juta terjadi berulang kali selama tiga hari berturut-turut hingga total dana yang hilang mencapai Rp30 juta.

“Saya tidak pernah menarik atau mentransfer uang itu. Tapi di buku rekening, semuanya tercatat keluar. Ini bukan kelalaian saya, ini kegagalan sistem,” tegas Mahriya dengan nada geram.

Bagi Mahriya, ini bukan sekadar kehilangan uang, melainkan runtuhnya kepercayaan terhadap lembaga keuangan yang seharusnya melindungi simpanan masyarakat kecil. Ia menilai, jika sistem BMT benar-benar aman, mustahil uang bisa keluar dalam jumlah besar tanpa otorisasi pemilik rekening.

Lebih parah lagi, hingga kini pihak BMT UGT Nusantara belum memberikan solusi yang adil. Menurut Mahriya, pihak manajemen justru terus menyalahkan dirinya sebagai pengguna aplikasi, tanpa mau membuka kemungkinan adanya kebocoran sistem atau kelalaian internal.

“Saya ini korban. Tapi diperlakukan seolah pelaku. Ini sangat tidak adil,” ujarnya.

Kasus ini memantik kemarahan dan keprihatinan masyarakat Desa Angkatan. Jika nasabah bisa kehilangan puluhan juta tanpa penjelasan yang transparan, maka siapa pun bisa menjadi korban berikutnya. Publik kini mendesak agar BMT UGT Nusantara melakukan audit menyeluruh terhadap sistem transaksi digitalnya dan bertanggung jawab penuh atas kerugian yang dialami Mahriya.

Uang Rp30 juta bagi Mahriya bukan angka kecil. Itu adalah hasil kerja keras dan harapan hidup. Keadilan bukan hanya soal mengembalikan uang, tetapi juga soal mengembalikan rasa aman masyarakat terhadap lembaga keuangan yang mereka percayai.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan