Berita

Skorsing Setahun untuk Noval, PBVSI Sumenep Dituding Tebang Pilih dan Minim Transparansi

623
×

Skorsing Setahun untuk Noval, PBVSI Sumenep Dituding Tebang Pilih dan Minim Transparansi

Sebarkan artikel ini

SUMENEP, pilarjatim.id – Keputusan Pengurus Kabupaten Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) Sumenep menjatuhkan skorsing selama satu tahun kepada atlet voli Noval terus menuai sorotan.

Bukan semata karena beratnya hukuman, melainkan karena hingga kini publik belum memperoleh penjelasan yang terang mengenai dasar, mekanisme, dan pertimbangan yang digunakan dalam menjatuhkan sanksi tersebut.

Bagi kalangan pecinta olahraga, hukuman satu tahun bukan sekadar sanksi administratif. Hukuman itu dapat memutus ritme permainan, menghambat karier, bahkan menghilangkan kesempatan seorang atlet untuk berkembang dan berprestasi.

Yang menjadi pertanyaan, apakah kesalahan yang dilakukan Noval benar-benar layak diganjar hukuman seberat itu?

Noval bukan atlet baru. Ia dikenal sebagai pemain andalan Klub Abizar yang selama ini aktif membela nama Sumenep dalam berbagai kompetisi. Namun kini, masa depannya di lapangan voli seolah diparkir selama satu musim penuh oleh keputusan organisasi yang hingga kini masih menyisakan banyak tanda tanya.

Ketua Klub Abizar, Hadi, secara terbuka menyampaikan kekecewaannya terhadap keputusan tersebut. Menurutnya, sanksi yang dijatuhkan tidak mencerminkan rekam jejak dan kontribusi atlet yang selama ini telah diberikan kepada dunia voli Sumenep.

“Kami sangat menyayangkan keputusan ini. Noval selama ini dikenal disiplin dan memiliki dedikasi tinggi terhadap olahraga voli. Bahkan saat berhalangan karena sakit, ia tetap menyampaikan izin secara resmi dengan dokumen pendukung,” ujarnya.

Pihak klub bahkan telah mengajukan banding. Namun sampai saat ini, mereka mengaku belum mendapatkan penjelasan yang memadai mengenai alasan di balik skorsing satu tahun tersebut.

Di sisi lain, Noval tidak membantah bahwa dirinya pernah menggunakan alasan sakit untuk tidak mengikuti agenda tertentu, namun tetap bermain dalam pertandingan di Situbondo. Pengakuan tersebut menjadi bagian penting dalam polemik yang berkembang.

Meski demikian, Noval berharap organisasi juga melihat persoalan secara utuh, bukan hanya dari satu sisi.

“Saya mengakui pernah salah. Tetapi saya berharap kontribusi dan kondisi yang saya alami juga menjadi pertimbangan. Saya memiliki tanggung jawab profesional sebagai pemain kontrak dan harus memenuhi kebutuhan keluarga,” ujarnya.

Ia mengaku saat itu sedang menghadapi tekanan ekonomi yang cukup berat sehingga mengambil keputusan yang menurutnya keliru.

Namun terlepas dari pengakuan tersebut, sorotan publik kini bergeser pada satu persoalan yang lebih besar: apakah PBVSI Sumenep telah menjalankan proses disiplin secara transparan dan proporsional?

Sampai hari ini, tidak ada penjelasan terbuka mengenai hasil pemeriksaan, mekanisme sidang disiplin, dasar hukum organisasi, maupun alasan yang membuat skorsing satu tahun dianggap sebagai hukuman yang paling tepat.

Ironisnya, saat dikonfirmasi, Ketua PBVSI Sumenep, H. Syamsul, tidak memberikan penjelasan substansial terkait perkara tersebut dan hanya mengarahkan media untuk menghubungi Komisi Disiplin (Komdis).

“Langsung konfirmasi ke Komdis, Mas Rudy,” ujarnya singkat.

Jawaban tersebut justru memicu pertanyaan baru. Sebab keputusan yang berdampak besar terhadap masa depan seorang atlet seharusnya dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka oleh organisasi yang mengeluarkannya.

Publik tidak sedang mempersoalkan penegakan disiplin. Aturan memang harus ditegakkan. Namun ketegasan tanpa transparansi hanya akan melahirkan spekulasi. Hukuman tanpa penjelasan hanya akan memunculkan pertanyaan.

Jika seorang atlet bisa dihukum setahun penuh, maka publik berhak mengetahui dasar pertimbangannya. Karena olahraga bukan hanya soal menang dan kalah, melainkan juga soal keadilan.

Kasus Noval kini telah melampaui urusan internal organisasi. Ia menjadi ujian bagi PBVSI Sumenep dalam menunjukkan bahwa setiap keputusan yang diambil benar-benar objektif, proporsional, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.

Sebab ketika karier seorang atlet dipertaruhkan oleh sebuah keputusan, maka keterbukaan bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban.

Tinggalkan Balasan