SosialBerita

Duka ditengah dentuman sound horeg ; Ketika Tradisi mengalahkan Empati, Siapa bertanggungjawab,?

8022
×

Duka ditengah dentuman sound horeg ; Ketika Tradisi mengalahkan Empati, Siapa bertanggungjawab,?

Sebarkan artikel ini

MALANG,PilarJatim.id – Duka ditengah Dentuman Sound horeg, ketika tradisi mengalahkan empati. Karnaval Sound Horeg di Desa Sanankerto, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Minggu (28/6/2026), yang diikuti sekitar 22 peserta, diwarnai suasana duka.

Seorang warga lanjut usia berinisial R, warga RT 06 RW 02 Desa Sanankerto, meninggal dunia sebelum rangkaian karnaval dimulai. Berdasarkan keterangan keluarga dan warga sekitar, saat almarhum meninggal sound system belum dinyalakan.

“Almarhum juga diketahui telah berusia lanjut dan dalam kondisi sakit-sakitan. Dengan demikian, tidak terdapat fakta yang menunjukkan bahwa kematian tersebut disebabkan oleh aktivitas Sound Horeg. Ujar H. Subur Sang Kades Saat dihubungi melalui ponselnya.

Meski demikian, peristiwa ini menghadirkan dilema pemerintah desa. Di satu sisi, ada keluarga yang sedang berduka dan masyarakat yang berharap suasana berkabung dihormati. Di sisi lain, karnaval yang telah dipersiapkan sejak lama menjadi agenda yang dinantikan ribuan masyarakat dari berbagai wilayah Malang Raya.

Terlepas dari tidak adanya hubungan antara meninggalnya warga dengan Sound Horeg, polemik mengenai keberadaan Sound Horeg tetap tidak dapat diabaikan.

“Selama ini, kegiatan tersebut kerap menuai kritik terkait tingkat kebisingan yang dinilai berpotensi mengganggu kenyamanan masyarakat dan, berdasarkan berbagai literatur kesehatan, paparan suara dengan intensitas tinggi dalam waktu tertentu dapat berdampak pada pendengaran maupun kesehatan.

Karena itu, pemerintah daerah perlu memiliki regulasi yang jelas mengenai batas kebisingan, waktu pelaksanaan, dan pengamanan kegiatan. Tradisi boleh terus berjalan, tetapi pelaksanaannya harus tetap memperhatikan hak masyarakat, menghormati situasi sosial di lingkungan sekitar, serta mengedepankan empati terhadap warga yang sedang mengalami musibah.

“Saat dikonfirmasi Kapolsek Turen, Kompol Catur Menyampaikan bahwa Kegiatan Tersebut dimulai pukul 19.00 WIB, Sebelum Acara dimulai peristiwa duka itu sebelum Ba’da Maghrib Terangnya. Namun beliau menyampaikan duka cita yang mendalam atas meninggalnya warga desa Sanankerto tersebut.

Peristiwa di Sanankerto menjadi pengingat bahwa keberhasilan sebuah tradisi tidak hanya diukur dari kemeriahan acaranya, tetapi juga dari kemampuan seluruh pihak menjaga keseimbangan antara hiburan, penghormatan terhadap warga yang berduka, dan kepentingan masyarakat secara luas.

Tinggalkan Balasan