Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah kepulauan Kecamatan Arjasa kembali menuai kecaman publik. Kali ini sorotan tajam datang dari media sosial Facebook, setelah beredar sebuah unggahan di salah satu grup Media Kangean yang menampilkan foto menu MBG lengkap dengan rincian harganamin tidak di jelaskan sppg yang memberi meny MBG.
Dalam unggahan tersebut tertulis keterangan, “MBG hari ini, semoga bermanfaat dan barokah.” Namun alih-alih mendapat apresiasi, unggahan itu justru memicu gelombang kritik dari warganet yang menilai menu yang disajikan jauh dari kata layak, apalagi disebut bergizi.
Salah satu komentar paling keras datang dari akun bernama Muhammad Zain Zain, yang menuliskan kritik pedas:
“Semoga yang jadi maling MBG mendapat azab yang pedih di akhirat, amin.”
Komentar tersebut sontak menjadi perhatian dan memantik diskusi luas di kolom komentar. Banyak warganet lain turut menyuarakan kekecewaan, mempertanyakan kualitas menu, nilai gizi, serta transparansi anggaran MBG yang disajikan kepada siswa di wilayah kepulauan.
Unggahan yang disertai foto dan harga menu itu diketahui berasal dari wilayah Arjasa, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Sumenep. Publik menilai, jika harga yang tertera dibandingkan dengan isi menu yang disajikan, maka terdapat ketimpangan yang sulit diterima secara logika maupun rasa keadilan.
Reaksi keras warganet ini menunjukkan bahwa persoalan MBG di kepulauan bukan lagi isu tertutup, melainkan telah menjadi kegelisahan publik. Program yang sejatinya bertujuan menyehatkan anak-anak justru dipersepsikan sebagai program yang tidak mencerminkan standar gizi, kepantasan, dan tanggung jawab moral.
Sejumlah masyarakat menilai, kritik keras di media sosial bukan muncul tanpa sebab, melainkan akumulasi dari kekecewaan yang terus berulang akibat menu MBG yang dinilai asal-asalan, minim variasi, dan tidak mencerminkan prinsip Angka Kecukupan Gizi (AKG).
Hingga kini, belum ada klarifikasi resmi dari pihak penyelenggara MBG di Kecamatan Arjasa terkait unggahan maupun gelombang kritik yang beredar di media sosial tersebut. Bungkamnya pihak terkait justru semakin memperkuat kecurigaan publik bahwa ada persoalan serius dalam pelaksanaan MBG di wilayah kepulauan.
Masyarakat mendesak agar pemerintah daerah, dinas terkait, dan Badan Gizi Nasional (BGN) segera turun langsung ke lapangan untuk melakukan evaluasi menyeluruh. Program MBG diingatkan bukan sekadar formalitas, apalagi ladang keuntungan, melainkan amanah negara untuk masa depan anak bangsa.














