JAKARTA,PilarJatim.id – Lambannya penanganan kasus penganiayaan berat yang merenggut nyawa Bambang Setiawan (59) dalam kerusuhan di Pejompongan, Tanah Abang, akhir Agustus lalu, memicu kritik keras publik. Nyawa Melayang di Pejompongan: Kinerja Lamban Polda Metro Jaya, Sketsa Wajah yang Dipertanyakan,? Meski peristiwa berdarah tersebut telah menyita perhatian lembaga pengawas nasional hingga internasional, aparat kepolisian dinilai lambat bergerak dan baru sebatas merilis sketsa wajah terduga pelaku.
Tewasnya Bambang dalam insiden yang terjadi pada 27–28 Agustus 2026 itu menyingkap tumpulnya pengamanan serta penegakan hukum di ibu kota. Sorotan tajam kini tertuju pada Polda Metro Jaya yang dinilai gagap mengusut tuntas tewasnya warga sipil di tengah kekacauan tersebut. Sebelumnya, polisi menerima laporan adanya seorang warga meninggal saat aksi rusuh terjadi di Pejompongan, Jakarta Pusat pada 27 Agustus.
“Saat ini penyidik sedang melakukan pengejaran terhadap terduga pelaku yang melakukan dugaan tindak pidana penganiayaan atau pengeroyokan yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang,” tutur Iman.
Pihak kepolisian membantu melakukan evakuasi setelah menerima laporan tersebut.
Berdalih 14 Saksi dan CCTV, Polisi Hanya Hasilkan Gambar Polda Metro Jaya merilis dua sketsa wajah pria yang disinyalir kuat sebagai pelaku utama penganiayaan. Pihak kepolisian mengklaim sketsa tersebut disusun berdasarkan pemeriksaan 14 saksi, rekaman CCTV, serta analisis video media sosial.
“Jadi berawal dari adanya informasi masyarakat kepada pihak kepolisian. Kita mengetahui bahwa di lokasi itu masih terjadi kerusuhan, sehingga Polri pun untuk melakukan evakuasi harus melihat menghitung evakuasi tersebut aman bagi petugas yang melakukan evakuasi,” kata Kabid Humas.
Namun, langkah ini dinilai publik sangat terlambat mengingat potensi barang bukti dan jejak pelaku yang bisa saja menguap seiring berjalannya waktu. Sketsa Pertama: Pria berusia sekitar 30–40 tahun, berkulit cokelat, berwajah oval, beralis tipis, berbibir tebal, berhidung pendek, dan bermata hitam. Sketsa Kedua: Pria berusia sekitar 30–40 tahun, berwajah kotak, berhidung pesek, berbibir bawah tebal, serta memiliki kumis dan janggut. Meski rincian ciri fisik telah dipublikasikan,
fakta bahwa pelaku berkeliaran bebas memperlihatkan betapa lambatnya pergerakan tim di lapangan. Tekanan Lembaga HAM: Jangan Hamburkan Waktu! Tragedi tewasnya Bambang kini menjadi preseden buruk yang menyedot perhatian serius dari Komnas HAM, Kompolnas, hingga Amnesty International Indonesia. Tiga lembaga independen ini mendesak aparat kepolisian untuk tidak sekadar melakukan formalitas penanganan kasus atau melempar wacana di media.
“Pengusutan tidak boleh berhenti pada rilis sketsa wajah semata. Kepolisian wajib membongkar kasus ini hingga ke akar-akarnya dan menyeret seluruh pelaku ke meja hijau tanpa kompromi.”
Publik menanti ketegasan aparat: apakah Polda Metro Jaya mampu menangkap pelaku dalam waktu dekat, atau kasus tewasnya Bambang Setiawan ini hanya akan menambah daftar panjang catatan kelam kejahatan yang menguap tanpa kepastian hukum?
“Berdasarkan keterangan saksi, didukung dengan petunjuk-petunjuk lain, selanjutnya penyidik melakukan persesuaian antara keterangan saksi dan hasil analisa digital didapatkan sketsa wajah yang mengarah kepada terduga pelaku pengeroyokan dan atau penganiayaan yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang tersebut,” kata Iman dalam konferensi pers, Rabu (2/9).
Iman menerangkan untuk terduga pelaku pertama adalah laki-laki diperkirakan berusia 30 sampai 40 tahun, memiliki bentuk wajah oval, alis tipis, bibir tebal, hidung pendek, bola mata berwarna hitam, dan warna kulit cokelat. Kemudian untuk terduga pelaku kedua adalah laki-laki diperkirakan berusia 30 sampai 40 tahun, memiliki bentuk wajah kotak, hidung pesek, bibir bawah tebal, terdapat kumis dan janggut, bola mata berwarna hitam, dan warna kulit cokelat.
Iman menyebut saat ini penyidik tengah melakukan pengejaran terhadap kedua terduga pelaku pengeroyokan yang menewaskan Bambang tersebut. Menurut Iman, Polda Metro Jaya juga masih akan terus melakukan pengembangan lebih lanjut untuk mengungkap aktor intelektual di balik kerusuhan tersebut.












