SUMENEP, pilarjatim.id — Pekerjaan pengerasan jalan sepanjang kurang lebih 900 meter di Desa Pajenangger, Kepulauan Kangean, Kabupaten Sumenep, menuai sorotan keras dari masyarakat. Proyek yang disebut warga sebagai “proyek siluman” itu dipersoalkan karena di lokasi pekerjaan mereka mengaku tidak melihat papan informasi proyek. Selain itu, material yang digunakan disebut warga berupa pasir pantai.
Sorotan tersebut memicu kekecewaan warga yang sejak lama berharap akses jalan di wilayah mereka benar-benar dibangun dengan kualitas yang baik dan mampu bertahan lama.
Salah seorang warga Pajenangger mengecam cara pengerjaan yang menurutnya tidak mencerminkan harapan masyarakat.
“Ini seperti melapisi kue donat. Pengerasan seharusnya menggunakan material yang sesuai spesifikasi, bukan asal pasir pantai. Kalau hujan datang, kami khawatir jalan malah semakin hancur. Tolong jangan asal kerja, kualitas juga harus dijaga,” keluhnya.
Kekecewaan warga bukan tanpa alasan. Menurut keterangan warga, ruas jalan tersebut sebelumnya pernah mendapatkan pekerjaan pengaspalan. Namun, masyarakat mengaku hanya dapat menikmati kondisi jalan tersebut sekitar lima bulan sebelum kembali mengalami kerusakan.
Kini, ketika pekerjaan kembali dilakukan, masyarakat berharap pengalaman buruk tersebut tidak terulang.
Bukan Sekadar Jalan, Ini Harapan Masyarakat
Bagi warga Pajenangger, jalan bukan sekadar proyek fisik. Jalan menjadi akses penting untuk aktivitas ekonomi, pendidikan, pelayanan masyarakat, serta mobilitas sehari-hari.
Karena itu, masyarakat mempertanyakan apabila material yang digunakan memang berbeda dengan spesifikasi yang ditetapkan dalam kontrak.
Penggunaan pasir pantai tersebut perlu segera diverifikasi oleh dinas teknis dan pengawas proyek. Pemeriksaan harus mencocokkan kondisi lapangan dengan RAB, kontrak, spesifikasi teknis, volume, serta standar konstruksi.
Jika material yang digunakan telah sesuai ketentuan, pelaksana memiliki kesempatan menjelaskan kepada publik. Namun apabila ditemukan ketidaksesuaian, pekerjaan harus diperbaiki dan dipertanggungjawabkan sesuai aturan.
Jangan Rusak Program Besar Pemerintah
Warga juga meminta agar pekerjaan tersebut tidak justru mencoreng semangat pembangunan infrastruktur yang selama ini digaungkan Pemerintah Kabupaten Sumenep.
“Kasihan Bupati Sumenep yang menggaungkan percepatan pembangunan infrastruktur demi pemerataan. Jangan sampai program yang baik justru membuat masyarakat kecewa karena pelaksanaan di lapangan tidak maksimal,” tegas warga.
Masyarakat juga mengingatkan bahwa pembangunan infrastruktur kepulauan telah menjadi perhatian pemerintah daerah dan DPRD Sumenep. Karena itu, setiap anggaran yang dikucurkan harus menghasilkan pembangunan yang benar-benar dirasakan manfaatnya.
Papan Proyek dan Kualitas Harus Dibuka
Jika benar papan informasi proyek tidak tersedia di lokasi, pemerintah dan pelaksana pekerjaan perlu segera memberikan penjelasan mengenai sumber anggaran, nilai kontrak, nama pelaksana, waktu pelaksanaan, serta spesifikasi pekerjaan.
Transparansi bukan sekadar formalitas. Informasi tersebut merupakan bagian penting agar masyarakat dapat ikut mengawasi penggunaan uang negara.
Media PILARJATIM.ID mendorong dinas terkait dan Inspektorat melakukan pemeriksaan langsung terhadap pekerjaan pengerasan Jalan Pajenangger. Jangan hanya melihat laporan administratif, tetapi periksa kondisi fisik di lapangan.
Sebab yang dipertaruhkan bukan sekadar 900 meter jalan.
Yang dipertaruhkan adalah uang negara, keselamatan pengguna jalan, kualitas pembangunan, dan kepercayaan masyarakatkepulauan terhadap pemerintah.
Jika pekerjaan sudah sesuai, buktikan dengan dokumen dan kualitas fisik. Jika tidak sesuai, jangan lindungi kesalahan.
Masyarakat Pajenangger tidak meminta proyek mewah. Mereka hanya meminta jalan yang dikerjakan dengan benar, berkualitas, dan tidak kembali rusak dalam hitungan bulan.












