Berita

Merdeka untuk Elit, Terjajah untuk Rakyat? Suara Keras dari Pelosok Negeri

653
×

Merdeka untuk Elit, Terjajah untuk Rakyat? Suara Keras dari Pelosok Negeri

Sebarkan artikel ini

SUMENEP, pilarjatim.id – Sudah 81 tahun Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Setiap Agustus, ucapan “Dirgahayu Republik Indonesia” menggema di berbagai penjuru negeri. Bendera Merah Putih berkibar, upacara digelar, dan kemerdekaan kembali menjadi sebuah momentum nasional.

Namun, muncul pertanyaan yang jauh lebih mendasar: apa arti kemerdekaan bagi masyarakat yang tinggal di pelosok, pegunungan, pesisir hingga kepulauan?

Bagi mereka yang masih berjuang mendapatkan akses pendidikan, kesehatan, infrastruktur, pekerjaan layak dan kesejahteraan, kemerdekaan terkadang terasa masih sebatas kata-kata.

Merdeka seharusnya bukan hanya milik mereka yang berada di pusat kekuasaan, menikmati pembangunan dan memiliki akses terhadap berbagai fasilitas. Kemerdekaan harus dirasakan hingga pelosok negeri, termasuk oleh petani, nelayan, buruh, masyarakat miskin dan warga kepulauan.

“Jangan sampai kemerdekaan hanya menjadi pesta tahunan para elit, sementara rakyat kecil masih harus berjuang melawan ketidakadilan,” tegas Muhlis Fajar.

Menurutnya, bentuk penjajahan hari ini bukan lagi dengan senjata atau pasukan asing. Namun, bisa muncul dalam bentuk ketimpangan, kesenjangan pembangunan, ketidakadilan dan kepentingan kelompok yang mengorbankan masyarakat kecil.

“Dulu kita melawan penjajah dari bangsa asing. Hari ini jangan sampai rakyat justru merasa dijajah oleh kepentingan bangsanya sendiri,” ujarnya.

Muhlis menegaskan, kemerdekaan yang sesungguhnya adalah ketika masyarakat di pelosok, pegunungan, pesisir dan kepulauan mendapatkan hak yang sama untuk hidup layak dan mendapatkan pelayanan negara.

“Kalau rakyat masih bertanya kapan jalan diperbaiki, kapan pelayanan kesehatan mudah, kapan pendidikan benar-benar merata dan kapan kesejahteraan mereka diperhatikan, maka kita perlu bertanya kembali: sudah sejauh mana kemerdekaan benar-benar dirasakan rakyat?”

81 tahun Indonesia merdeka harus menjadi momentum untuk introspeksi. Merah Putih bukan hanya untuk dikibarkan, tetapi juga menjadi simbol bahwa seluruh rakyat—di kota maupun pelosok, daratan maupun kepulauan—memiliki hak yang sama untuk merasakan arti kemerdekaan.

Tinggalkan Balasan