PeristiwaBerita

Borok Senioritas di Tubuh Militer: Ketika Salah Beli Mie Dibayar Nyawa

18104
×

Borok Senioritas di Tubuh Militer: Ketika Salah Beli Mie Dibayar Nyawa

Sebarkan artikel ini

​JAKARTA,PilarJatim.id – Nyawa seorang prajurit militer kembali melayang akibat budaya senioritas yang kebablasan dan tidak masuk akal. Serda Ahmad Muzammil Farisa, prajurit TNI AU asal Magetan, tewas setelah diduga mengalamani penganiayaan berat oleh para seniornya di dalam asrama. Borok Senioritas di Tubuh Militer: Ketika Salah Beli Mie Dibayar Nyawa. Alasan di balik tindakan brutal tersebut sungguh ironis dan memuakkan: korban salah membeli mie. TNI AU berjanji mengusut tuntas tewasnya Serda Ahmad Muzammul Farisa (AMF) yang diduga akibat tindakan seniornya.

“TNI Angkatan Udara berkomitmen mengusut tuntas dugaan pembinaan berlebihan yang menyebabkan Serda AMF meninggal pada Kamis (10/9/2026) secara transparan,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau), Marsma I Nyoman Suadnyana, dalam keterangannya, Sabtu (12/9/2026).

​Berdasarkan keterangan ayah almarhum, Toni Eko Prasetyo, penganiayaan ini dipicu hal sepele. Serda Ahmad diminta membeli mi kuah, namun ia membawa mi goreng. Kekhilafan kecil yang seharusnya selesai dengan teguran ringan justru direspon dengan kekerasan fisik berujung maut. ​Senioritas “Bak Tuhan” yang Nirnalar
​Kasus ini membongkar kembali realitas kelam mengenai budaya kekerasan yang mengakar di internal institusi militer. ​Keluarga menerima kabar meninggalnya Ahmad pada Kamis (11/9/2026) sekitar pukul 05.00 WIB.

Reformasi Internal Jangan Sekadar Lip Service

​“TNI AU memastikan proses tersebut berjalan transparan, adil, dan tanpa intervensi, dengan tetap berpedoman pada ketentuan peraturan perundang-undangan,” pungkas dia.

Saat itu, almarhum disebut telah berada di unit gawat darurat sebelum dinyatakan meninggal dunia. Atas nama hierarki dan pembinaan, para senior bertindak seolah memiliki kuasa mutlak atas hidup dan mati juniornya. ​Prinsip disiplin yang seharusnya membentuk prajurit profesional justru dibajak menjadi ajang pembuktian ego dan penyaluran kekerasan. Membedakan mie kuah dan mie goreng tidak ada hubungannya dengan pertahanan negara, tetapi salah beli mie bisa menjadi vonis mati di tangan senior yang merasa kedudukannya setingkat Tuhan.

Keluarga Mendesak hukuman yang  setimpal

Penganiayaan hingga menewaskan Serda Ahmad bukan sekadar “oknum”, melainkan cermin dari pembiaran sistemik terhadap budaya perpeloncoan di lingkungan asrama. Jika tindak kekerasan sepele seperti ini terus ditoleransi dengan dalih tradisi, maka institusi militer gagal melindungi anggotanya sendiri dari ancaman di dalam markas. ​Pimpinan TNI AU dan instansi terkait tidak boleh hanya menyampaikan duka cita atau sekadar memberi sanksi administratif. Kasus ini harus diusut secara transparan melalui proses hukum pidana yang tegas.

​”Kami dari keluarga almarhum berharap ada sanksi yang setimpal kepada empat anggota senior anak kami yang mengakibatkan hilangnya nyawa anak kami,” ujarnya ditemui di rumah duka Jumat sore (11/9/2026).

Budaya Senioritas beracun ini harus dipangkas habis sebelum lebih banyak nyawa prajurit melayang sia-sia hanya karena urusan sepele
​Keluarga menerima kabar meninggalnya Ahmad pada Kamis (11/9/2026) sekitar pukul 05.00 WIB. ​Saat itu, almarhum disebut telah berada di unit gawat darurat sebelum dinyatakan meninggal dunia. ​Ayah almarhum Serda Ahmad, Toni Eko Prasetyo, mengatakan keluarganya meminta proses hukum terhadap pihak yang diduga terlibat berjalan serius dan transparan.

“Fakta-fakta terkait kejadian tersebut akan diungkap berdasarkan hasil pemeriksaan dan alat bukti yang diperoleh,” jelas dia. Diproses sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku,” Tegasnya.

​Nyoman menyampaikan, tidak ada ruang bagi tindakan yang melanggar hukum di lingkungan TNI AU. Dalam hal ini, Nyoman menggarisbawahi, prajurit yang terlibat akan dimintai pertanggungjawaban. Nyoman tidak menjelaskan lebih lanjut soal penyebab kematian korban. Keluarga tidak ingin latar belakang maupun alasan apa pun menjadi pembenaran atas dugaan penganiayaan yang dialami anaknya.

Tinggalkan Balasan