RAAS, SUMENEP, pilarjatim.id – Sebuah pemandangan yang menggetarkan hati terjadi di Pelabuhan Raas saat masyarakat mengantar keberangkatan Camat Raas, Subiyakto, SH., MH, menuju tempat tugas barunya. Tangis, pelukan, dan doa mengiringi langkah seorang pemimpin yang selama ini dikenal dekat dengan masyarakat.
Di antara warga yang hadir, seorang nelayan bernama Derik, warga Dusun Polo Tengah, Desa Brakas, menjadi sosok yang paling tak kuasa menahan kesedihan. Dengan mata sembab dan suara bergetar, ia menghampiri Subiyakto lalu memeluknya erat.
Tangisan Derik pecah di hadapan warga lainnya. Air mata yang mengalir seolah menggambarkan perasaan masyarakat Raas yang kehilangan sosok pemimpin yang selama ini mereka cintai.
“Semoga pengganti bapak nanti bisa seperti bapak. Kapan lagi kita bisa bertemu, Pak Camat?” ucap Derik sambil memeluk erat Subiyakto.
Dengan penuh haru, Derik juga menyampaikan rasa terima kasihnya atas pengabdian dan perhatian yang telah diberikan selama Subiyakto memimpin Kecamatan Raas.
“Sampean sudah banyak membantu warga di Raas. Kami merasakan sendiri perhatian dan kepedulian sampean kepada masyarakat,” ujarnya di sela-sela tangis.
Pelukan yang berlangsung cukup lama itu menjadi simbol kuat kedekatan antara seorang pemimpin dan rakyatnya. Tidak banyak pejabat yang saat meninggalkan tempat tugasnya diantar dengan air mata dan pelukan tulus dari masyarakat.
Melihat Derik dan warga lainnya menangis, Subiyakto yang selama ini dikenal tenang dan tegar pun akhirnya tak mampu membendung emosinya. Matanya mulai berkaca-kaca hingga air mata jatuh di pipinya.
Suasana pelabuhan mendadak hening. Banyak warga yang ikut larut dalam kesedihan melihat momen perpisahan yang penuh ketulusan tersebut.
Bagi masyarakat Raas, Subiyakto bukan sekadar camat yang menjalankan tugas pemerintahan. Ia dikenal sebagai pemimpin yang hadir di tengah masyarakat, mendengarkan keluhan warga, membantu menyelesaikan berbagai persoalan, dan berusaha memberikan pelayanan terbaik bagi pulau yang dipimpinnya.
Selama menjabat sebagai Camat Raas sejak 21 Maret 2024, kedekatan Subiyakto dengan masyarakat menjadi salah satu alasan mengapa kepergiannya meninggalkan rasa kehilangan yang begitu mendalam.
Tangisan Derik di dermaga itu bukan hanya ungkapan sedih karena perpisahan. Lebih dari itu, tangisan tersebut menjadi bukti bahwa ketulusan dalam memimpin akan selalu mendapat tempat di hati rakyat.
Hari itu, di ujung dermaga Raas, tidak ada sekat antara pejabat dan masyarakat. Yang terlihat hanyalah seorang pemimpin dan warganya yang saling melepas dengan doa, pelukan, dan air mata.
Kepergian Subiyakto mungkin hanya perpindahan tugas. Namun bagi masyarakat Raas, kenangan tentang sosok pemimpin yang sederhana, peduli, dan dicintai rakyat akan tetap hidup dalam hati mereka untuk waktu yang sangat lama.












