Example floating
Example floating
PeristiwaBerita

Viral Tak Cukup, Sampah Bawah Jembatan Masih Menyengat Menghantui Warga Desa Jabung

26431
×

Viral Tak Cukup, Sampah Bawah Jembatan Masih Menyengat Menghantui Warga Desa Jabung

Sebarkan artikel ini

MALANG, PilarJatim.id – Tumpukan sampah liar di bawah Jembatan Baran, Desa Jabung, Kabupaten Malang, kini tak lagi sekadar persoalan kebersihan lingkungan. Bagi warga sekitar, kondisi tersebut telah berubah menjadi simbol lemahnya tindakan nyata dan minimnya ketegasan dalam menangani persoalan yang sudah lama dikeluhkan masyarakat.

Meski Pemerintah Desa Jabung telah memasang papan peringatan keras bertuliskan larangan membuang sampah di area jembatan dan sekitarnya, kenyataan di lapangan justru menunjukkan situasi yang bertolak belakang. Sampah masih menumpuk. Bau busuk masih menyengat. Dan warga masih menjadi pihak yang setiap hari menanggung dampaknya.

“Papan larangan Sekarang ada, tapi sebelumnya tidak Larangan dalam kurun waktu cukup lama. Namun bila sampahnya tetap numpuk ya sama saja. Kami ini tiap hari yang mencium baunya, bukan cuma lihat tulisannya,” ujar salah satu warga dengan nada kesal.

Pernyataan tersebut menggambarkan kekecewaan masyarakat terhadap pendekatan yang dinilai terlalu pasif. Warga menilai pemasangan papan larangan seharusnya hanya menjadi langkah awal, bukan solusi utama.

Di bawah jembatan, tumpukan sampah disebut terus bertambah akibat masih adanya oknum yang membuang sampah sembarangan. Tanpa pengawasan ketat, tanpa sanksi tegas, dan tanpa sistem penanganan yang berkelanjutan, kawasan itu perlahan berubah menjadi titik pembuangan liar yang mencederai lingkungan.

“Kalau cuma pasang papan tanpa dijaga, ya percuma. Orang buang sampah tetap jalan. Harusnya ada tindakan nyata, bukan sekadar imbauan,” keluh warga lainnya.

Kritik masyarakat tidak hanya tertuju pada pelaku pembuangan sampah, tetapi juga pada efektivitas pemerintah desa dalam memastikan aturan benar-benar berjalan. Sebab bagi warga, aturan tanpa penegakan hanya akan berakhir sebagai formalitas.

Persoalan ini semakin serius karena dampaknya bukan hanya visual, tetapi juga kesehatan. Saat cuaca panas, aroma busuk dari sampah disebut semakin tajam. Saat hujan turun, sampah dikhawatirkan menyumbat aliran air dan berpotensi memperparah kondisi lingkungan.

“Yang jadi korban itu warga sekitar. Bau menyengat sangat terasa saat melintasi lokasi. Kalau begini terus, kami mau sampai kapan disuruh sabar?” ungkap seorang warga.

Bagi masyarakat, persoalan Jembatan Baran bukan lagi soal kurangnya papan larangan, tetapi soal sejauh mana kesadaran masyarakat sekitar serta pemerintah desa berani bertindak tegas.

Warga mendesak adanya patroli lingkungan, pembersihan rutin, kerja sama serius dengan dinas terkait, penyediaan lokasi pembuangan resmi, hingga pemberian sanksi terbuka bagi pelanggar agar ada efek jera.

“Jangan cuma nunggu viral lalu pasang papan. Setelah itu selesai. Kami butuh solusi, bukan simbol,” tegas warga lainnya.

Kondisi ini menjadi pengingat bahwa tata kelola lingkungan tidak cukup hanya mengandalkan imbauan. Pemerintah desa dituntut hadir melalui kebijakan yang benar-benar terasa dampaknya di lapangan.

Jika tidak ada langkah konkret, papan larangan justru berisiko menjadi simbol kegagalan penegakan aturan. Sebab selama sampah masih menggunung di bawah papan peringatan, masyarakat akan terus mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan mereka.

Kini warga Desa Jabung menunggu lebih dari sekadar tulisan larangan. Mereka menunggu keberanian, tindakan, dan bukti bahwa keluhan masyarakat tidak berhenti sebagai suara yang didengar, tetapi benar-benar diperjuangkan.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan