Example floating
Example floating
PendidikanBerita

Siswa Menunggu Satu Jam Tanpa Kepastian, Yayasan Batu Berlian Dihujani Kecaman

569
×

Siswa Menunggu Satu Jam Tanpa Kepastian, Yayasan Batu Berlian Dihujani Kecaman

Sebarkan artikel ini

Sumenep, pilarjatim.id – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Kecamatan Arjasa kembali menuai sorotan tajam. Kali ini kekecewaan datang dari lingkungan SMP Negeri 1 Arjasa setelah program bantuan gizi yang ditunggu-tunggu siswa tak kunjung datang pada Jumat (8/5).

Peristiwa tersebut langsung memantik pertanyaan publik terhadap kesiapan dan profesionalitas pihak penyelenggara, termasuk dugaan buruknya koordinasi dari yayasan pelaksana MBG yang disebut berada di wilayah Paseraman.

Informasi yang dihimpun di lapangan, sejak pagi para siswa sudah menunggu pembagian makanan bergizi seperti biasanya. Namun hingga lebih dari satu jam berlalu, bantuan yang dijanjikan tak kunjung tiba di sekolah.

Suasana yang awalnya penuh antusias berubah menjadi kekecewaan. Banyak siswa yang sebelumnya berharap mendapatkan makanan tambahan justru harus pulang tanpa kepastian.

Salah satu guru yang enggan disebutkan namanya mengaku kecewa atas kejadian tersebut. Ia menilai keterlambatan tanpa kejelasan itu telah membuat siswa menunggu sia-sia.

“Anak-anak sudah menunggu sejak pagi. Biasanya mereka semangat kalau ada MBG. Tapi hari ini sampai lebih dari satu jam tidak datang juga. Akhirnya siswa dipulangkan,” ujarnya.

Guru tersebut juga menyayangkan minimnya informasi maupun pemberitahuan dari pihak penyelenggara sehingga sekolah tidak memiliki kepastian untuk menjelaskan kepada siswa.

“Kalau memang ada kendala, seharusnya ada komunikasi yang jelas. Jangan siswa dibuat menunggu tanpa kepastian seperti ini,” katanya.

Kekecewaan siswa pun menjadi perbincangan di lingkungan sekolah. Sejumlah pihak mulai mempertanyakan keseriusan pengelolaan program MBG di wilayah kepulauan, terutama setelah sebelumnya muncul berbagai polemik terkait pelaksanaan program tersebut.

Publik kini menyoroti keberadaan yayasan pelaksana yang disebut-sebut berada di kawasan Paseraman. Banyak yang mempertanyakan bagaimana program nasional yang menyangkut kebutuhan siswa bisa berjalan tanpa kepastian distribusi.

“Kalau program ini untuk anak-anak sekolah, jangan dikelola asal-asalan. Ini menyangkut hak dan harapan siswa,” ujar salah satu wali murid.

Kondisi tersebut dinilai mencoreng semangat program bantuan gizi yang seharusnya memberi manfaat nyata bagi pelajar, bukan justru menghadirkan kekecewaan di lingkungan sekolah.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi dari pihak yayasan pelaksana terkait penyebab tidak sampainya program MBG ke SMP Negeri 1 Arjasa pada hari tersebut.

Peristiwa ini kini menjadi sorotan masyarakat Kabupaten Sumenep dan memunculkan desakan agar pemerintah melakukan evaluasi serius terhadap pelaksanaan program MBG di wilayah kepulauan agar tidak terus menimbulkan polemik dan kekecewaan bagi siswa.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *