Sumenep, pilarjatin.id — Momen Hari Guru Nasional yang semestinya menjadi ajang penghormatan terhadap para pendidik justru ternodai oleh dugaan tindakan arogan Pj Kepala SDN 2 Arjasa, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Sumenep. Sejumlah guru mengaku mengalami perlakuan tidak layak, bahkan disebut kerap mendapatkan ucapan kasar yang tidak pantas diucapkan seorang pimpinan lembaga pendidikan kec Arjasa kab Sumenep Jawa timur, ( 25/11/2025 ).
Informasi yang dihimpun media, beredar voice note di sejumlah grup WhatsApp komunitas Kangean yang berisi suara mirip Pj Kepala Sekolah tersebut. Dalam rekaman itu terdengar nada tinggi, bentakan, serta kata-kata bernada intimidatif terhadap guru.
“Cara bicaranya bukan seperti pimpinan, tapi seperti preman,” ungkap salah satu guru yang enggan disebutkan namanya.
Dugaan Tidak Mencairkan Tunjangan TAMSIL
Selain sikap arogan, Pj Kepala SDN 2 Arjasa juga diduga tidak mencairkan Tunjangan Tambahan Penghasilan (TAMSIL) bagi guru non ASN. Beberapa guru mengaku telah menunggu berbulan-bulan tanpa kejelasan.
Tidak hanya itu, satu guru sertifikasi dilaporkan dipersulit pencairan sertifikasinya tanpa alasan jelas.
Guru Sakit Dimarahi Meski Tetap Hadir
Sumber lain mengungkapkan, Pj Kepala Sekolah disebut memarahi seorang guru yang sedang sakit hingga mengalami stroke ringan. Ironisnya, guru tersebut tetap masuk mengajar meski harus diantar keluarganya ke sekolah agar tidak dianggap sering absen.
“Masuk saja masih dimarahi, padahal kondisinya sakit. Kami benar-benar merasa tertekan,” keluh sumber yang lain.
Pihak Sekolah Bungkam
Upaya konfirmasi dilakukan melalui WhatsApp kepada Pj Kepala SDN 2 Arjasa, namun pesan hanya centang dua dan tidak mendapatkan respons hingga berita ini diterbitkan.
Desakan Nonaktifkan Kepala Sekolah
Lebih dari lima guru mengajukan permintaan kepada Kadisdik Kabupaten Sumenep, Agus, agar segera menonaktifkan Pj Kepala SDN 2 Arjasa karena dinilai memicu kekacauan internal sekolah, menciptakan ketegangan, dan tidak mencerminkan karakter pendidik.
“Kami bukan ingin bermasalah, kami hanya ingin bekerja dengan tenang dan dihormati sebagai guru,” ujar salah seorang guru.
LSM Ikut Turun Tangan
Aktivis LSM Deneor, Muhles Fajar, mengecam keras dugaan tindakan arogan tersebut.
> “Ini merusak citra dunia pendidikan. Guru adalah profesi mulia dan tidak boleh diperlakukan seperti bawahan pabrik. Kami berharap Dinas Pendidikan segera mengambil tindakan tegas,” tegasnya.
Dinas Pendidikan Belum Berkomentar
Hingga berita ini diturunkan, Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep belum dapat dikonfirmasi karena Kepala Dinas belum merespons panggilan telepon maupun pesan WhatsApp.














