Sumenep, pilarjatim.id – Kondisi Kepulauan Kangean, Kabupaten Sumenep, kian memprihatinkan. Krisis kebutuhan dasar terjadi secara bersamaan dan memicu kemarahan masyarakat. Listrik PLN tak menentu, LPG langka, dan harga BBM melambung hingga Rp30.000 per liter. Situasi ini bukan lagi sekadar keluhan—ini darurat nyata di wilayah kepulauan.
Tokoh masyarakat Kepulauan, Moh Rofiq atau yang dikenal dengan sapaan Itang, angkat suara dengan nada keras. Ia menyebut keadaan ini sebagai bentuk nyata kegagalan perhatian terhadap masyarakat kepulauan.
“Kami tidak sedang baik-baik saja. Ini darurat! Listrik padam tanpa kepastian, LPG sulit didapat, BBM mencekik rakyat. Tapi pemerintah seolah tidak peduli,” tegasnya lantang.
Itang menilai, penderitaan masyarakat Kangean hari ini diperparah oleh sikap diam para pemangku kebijakan, khususnya Forkopimda, yang dinilai abai terhadap jeritan rakyat.
“Di mana mereka saat rakyat kesulitan? Jangan hanya hadir saat seremoni, tapi hilang saat rakyat butuh solusi!” sindirnya tajam.
Menurutnya, kondisi ini sudah melampaui batas kewajaran. Masyarakat dipaksa bertahan di tengah ketidakpastian, sementara kebutuhan dasar justru menjadi barang langka dan mahal.
“BBM Rp30.000 per liter, LPG langka, listrik hidup mati sesuka hati. Ini bukan pelayanan—ini pembiaran!” tegas Itang.
Ia juga memperingatkan bahwa jika situasi ini terus dibiarkan tanpa penanganan serius, bukan tidak mungkin akan memicu gejolak sosial di tengah masyarakat.
“Kalau kebutuhan dasar terus diabaikan, jangan salahkan rakyat kalau nanti ada reaksi. Ini bisa jadi bom waktu,” ujarnya.
Dalam kondisi yang semakin genting, Itang mendesak aparat keamanan, khususnya Polri dan TNI, untuk tidak tinggal diam dan ikut mengawal situasi di lapangan.
“Kami butuh kehadiran negara. Kami minta Polri dan TNI turun tangan, kawal distribusi dan kondisi masyarakat agar tetap aman,” katanya.
Tak hanya itu, ia juga memanggil solidaritas dari para aktivis, LSM, dan media untuk ikut mengangkat persoalan ini ke permukaan nasional.
“Jangan biarkan kami berjuang sendiri. Suarakan penderitaan kami. Kami ini rakyat kecil di ujung negeri yang hari ini benar-benar menjerit,” ucapnya penuh tekanan.
Pesan Itang jelas: masyarakat kepulauan bukan warga kelas dua. Mereka berhak atas listrik yang layak, BBM yang terjangkau, dan LPG yang tersedia.
Kini publik menunggu—apakah pemerintah akan terus diam, atau akhirnya bergerak sebelum krisis ini berubah menjadi kemarahan besar?














