Example floating
Example floating
PeristiwaBerita

Pemadaman Tanpa Otak! Warga Arjasa Jenuh, PLN Kangean Dinilai Gagal Total

4464
×

Pemadaman Tanpa Otak! Warga Arjasa Jenuh, PLN Kangean Dinilai Gagal Total

Sebarkan artikel ini

SUMENEP , pilarjatim.id – Keluhan masyarakat kepulauan kembali meledak. Kali ini, amarah warga tertuju pada kinerja PLN ULP Kangean yang dinilai semakin tidak terkendali akibat pemadaman listrik yang terus berulang tanpa kejelasan informasi.

Di Kecamatan Arjasa, Kabupaten Sumenep, warga mengaku sudah sampai pada titik jenuh. Pemadaman listrik terjadi begitu saja, tanpa pemberitahuan, tanpa penjelasan, bahkan tanpa rasa tanggung jawab kepada masyarakat yang terdampak.

Yang paling memicu kemarahan, pemadaman justru kerap terjadi pada waktu-waktu krusial, seperti menjelang sahur dan saat berbuka puasa di bulan Ramadan—momen yang seharusnya menjadi waktu nyaman bagi masyarakat untuk beribadah.

“Sudah terlalu sering listrik padam tanpa ada penjelasan. Kadang saat sahur tiba-tiba mati, kadang juga saat berbuka. Ini sangat mengganggu,” keluh seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Kondisi ini bukan sekadar gangguan kecil. Dampaknya merembet luas, mulai dari aktivitas rumah tangga yang terganggu, hingga pelaku usaha kecil, warung makan, dan pedagang yang kehilangan penghasilan karena sangat bergantung pada listrik.

Ironisnya, di tengah keluhan yang terus memuncak, pelayanan listrik di wilayah kepulauan seperti Kangean justru dinilai seolah tidak menjadi prioritas. Padahal, listrik merupakan kebutuhan mendasar yang menjadi penopang utama kehidupan masyarakat dan roda ekonomi lokal.

Sorotan juga mengarah pada Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimka) Arjasa yang dinilai belum menunjukkan sikap tegas. Hingga saat ini, belum terlihat adanya langkah konkret untuk memanggil atau mendesak pihak PLN agar memberikan penjelasan resmi kepada publik.

Sikap diam ini memicu pertanyaan besar di tengah masyarakat: di mana peran pemerintah saat warga terus dirugikan?

Sejumlah tokoh masyarakat menilai Forkopimka tidak boleh tinggal diam. Mereka mendesak agar pihak terkait segera turun tangan dan memanggil PLN untuk memberikan klarifikasi sekaligus solusi nyata atas persoalan yang terus berulang ini.

Jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa perbaikan, bukan tidak mungkin kemarahan warga akan berubah menjadi gelombang protes yang lebih besar. Terlebih di bulan Ramadan, ketika masyarakat sangat membutuhkan kenyamanan dan stabilitas listrik untuk menjalankan ibadah serta aktivitas sehari-hari.

Masyarakat kini menunggu, bukan sekadar janji—melainkan tindakan nyata.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *